Kill The Time

A Note

I am here with a feeling of emptiness.

Alone, only me staring to nothing.

Like part of me had died.

How can I live my life for tomorrow?

How can I stand on my own?

If I feel lonely among the crowd.

If I feel cold when the sun shines so bright.

If I’m laughing and crying then.

No more strength.

Shall I die this way?

I’m tired. I’m weak. I’m sick.

Robohnya Surau Kami

oleh : AA Navis (1956)

Kalau beberapa tahun yang lalu Tuan datang ke kota kelahiranku dengan menumpang bis, Tuan akan berhenti di dekat pasar. Melangkahlah menyusuri jalan raya arah ke barat. Maka kira-kira sekilometer dari pasar akan sampailah Tuan di jalan kampungku. Pada simpang kecil ke kanan, simpang yang kelima, membeloklah ke jalan sempit itu. Dan di ujung jalan nanti akan Tuan temui sebuah surau tua. Di depannya ada kolam ikan, yang airnya mengalir melalui empat buah pancuran mandi. Continue reading

Tuhan Sembilan Senti

~ I went to my home city by public transportation (bus) tonight, and suddenly I remembered this poem. Is there any space for me to take a deep breath for fresh Oxygen ? ~

Tuhan Sembilan Senti
Oleh Taufiq Ismail

Indonesia adalah sorga luar biasa ramah bagi perokok,
tapi tempat siksa tak tertahankan bagi orang yang tak merokok,
Di sawah petani merokok,
di pabrik pekerja merokok,
di kantor pegawai merokok,
di kabinet menteri merokok,
di reses parlemen anggota DPR merokok,
di Mahkamah Agung yang bergaun toga merokok,
hansip-bintara- perwira nongkrong merokok,
di perkebunan pemetik buah kopi merokok,
di perahu nelayan penjaring ikan merokok,
di pabrik petasan pemilik modalnya merokok,
di pekuburan sebelum masuk kubur orang merokok,
Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu- na’im Continue reading